Kompetisi Artikel "Harapanmu untuk Ibu Kota Baru" yang diselenggarakan oleh Bappenas
Kompetisi Artikel "Harapanmu untuk Ibu Kota Baru" yang diselenggarakan oleh Bappenas
Menuju Bonus Demografi
Indonesia mulai menuju masa transisi, yakni dengan adanya bonus demografi. Puncak dari era bonus demografi ini akan dicapai ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada angka 70% dari jumlah penduduk total yang menurut proyeksi BPS dicapai antara rentang tahun 2025-2030. Dalam pengertiannya, bonus demografi merupakan masa di mana 70% penduduk telah mencapai usia produktif yakni 15 tahun dengan 30% nya berusia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun. Di mana pada usia produktif dikatakan akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi negara.
Pemuda sebagai tongkat estafet negara diharapkan mampu memberikan sumbangan penting bagi negara khususnya dimulai dalam konteks pembangunan lokal yang berkesinambungan. Bonus demografi mempunyai dampak signifikan terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan budaya apalagi pada abad ke 21 di mana teknologi dan informasi mempunyai perkembangan yang sangat pesat.
Pesatnya teknologi informasi memiliki dampak positif dan negatif salah satunya yakni adanya multikulturalisme. Multikulturalisme seperti yang diungkapkan oleh Prof. Azyumardi Azra, pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Perlunya juga difiltrasi agar pengetahuan yang masuk pun harus diambil sisi positifnya sebagai nilai tambah yang mampu menopang pembangunan lokal yang berkemajuan. Menilik kecenderungan perubahan sosial pada abad ke-21 seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ditandai dengan 6 kecenderungan yakni:
- Bertarungnya revolusi digital yang semakin luar biasa yang mengubah sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan termasuk pendidikan.
- Terjadinya integrasi belahan dunia yang semakin intensif akibat internasionalisasi, globalisasi dan hubungan-hubungan multikultural teknologi komunikasi dan teknologi transportasi.
- Berlangsungnya pendataran dunia sebagai akibat berbagai perubahan mendasar dimensi-dimensi kehidupan manusia terutama akibat mengglobalnya korporasi dan individu.
- Sangat cepatnya perubahan dunia yang mengakibatkan dunia tampak berlari tunggang langgang, ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas dan keusangan segala sesuatu cepat terjadi.
- Semakin tumbuhnya masyarakat padat pengetahuan, masyarakat informasi dan masyarakat jaringan yang membuat pengetahuan informasi dan jaringan menjadi modal sangat penting.
- Makin tegarnya fenomena abad kreatif beserta masyarakat kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai modal penting untuk individu, perusahaan, dan masyarakat.
Dalam kondisi sosial yang semakin berubah, pemuda diharapkan mampu berpartisipasi secara aktif, kritis dan responsif sehingga mampu memanfaatkan bonus demografi yang semakin dekat. Khususnya pemuda juga perlu menekankan pentingnya berwirausaha bagi masyarakat, apalagi pada abad ke-21 ini mulai menjamurnya bisnis start up, karena wirausaha mampu diakses oleh semua kalangan mulai dari yang berpendidikan rendah sampai tinggi. Hal ini juga tidak lepas dari pesatnya teknologi informasi yang mendukung berkembangnya wirausaha yang diakomodasi dari media sosial yang berbasis bisnis online. Dari data yang dirilis oleh eMarketer, hingga tahun 2018 penjualan eceran e-dagang global diperkirakan akan mencapai $2,5 triliun.
Semakin tingginya usia seseorang mencapai masa produktif memasuki lapangan pekerjaan apabila tidak dibarengi dengan tumbuhnya lapangan pekerjaan yang tersedia mengakibatkan timbulnya kesenjangan ekonomi. Karena itu kualitas manusianya juga perlu digali lagi dalam hal pontensi minat dan bakatnya. Hal itu memungkinkan individu untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan masyarakat. Aktualisasi minat dan bakatnya mampu mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang memungkinkan juga tumbuhnya wirausaha baru. Dimulai dari aspek pendidikan, yang merupakan hal yang sangat fundamental untuk membangun katakter siswanya karena itu dari pemerintah sendiri ada baiknya mulai memberikan tambahan mata pelajaran kewirausahaan yang dimulai dari sekolah dasar.
Selanjutnya, dalam orientasi pengembangan keahlian/keterampilan, pemerintah melalui Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan (Bappenas) mengoptimalkan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan vokasi. Upaya tersebut ditekankan pada empat bidang garapan yang harus dilakukan.
Bidang garapan pertama adalah melindungi penduduk yang sudah bekerja dapat terus bekerja. Kedua, bagiamana membuka kesempatan kerja agar angkatan kerja baru memperoleh tempat untuk bekerja. Ketiga, memfasilitasi penduduk yang bekerja terus bekerja dan memiliki produktifitas yang tinggi. Keempat, menyiapkan angkatan kerja baru agar memiliki kompetensi yang tinggi sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja.
Selanjutnya, Kemeterian Perindustrian sendiri pada tahun ini telah menyiapkan 4 tahap program pendidikan vokasi industri yang mencakup 4 wilayah yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan wilayah Sumatera Utara. Dari Jawa Timur sendiri di tempatkan pada 50 perusahaan dan 234 SMK.
Dalam konteks pendidikan, pemuda juga harus setidaknya mengenyam pendidikan dibangku sekolah, tujuannya agar tercipta karakter individu yang mampu memiliki wawasan, pengetahuan, dan moral yang tinggi. Pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Paulo Freire adalah instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu mewujudkan potensinya. Oleh karena itu, pendidikan memainkan peranan strategis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan berkualitas.
Dalam hal ini, untuk menuju bonus demografi pemerintah juga telah menyiapkan dana sebesar Rp 2 triliun melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk optimalisasi pemberian beasiswa pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah khususnya dari kalangan yang tidak mampu.
Menuju bonus demografi potensi pemuda dimanfaatkan seoptimal mungkin agar kesempatan tersebut mampu membawa perubahan bagi bangsa Indonesia sendiri khususnya dimulai dari pembangunan lokal. Pembangunan lokal juga mempunyai dampak signifikan terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Dengan ketiga aspek tersebut perlu diperhatikan arah geraknya dan penanganan intensif untuk memanfaatkan bonus demografi seoptimal mungkin. Karena bagaimanpun pembangunan lokal lah yang diidentifikasikan untuk mengukur sejauh mana kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu perlunya penanganan khusus untuk menopang pembangunan lokal yang berkemajuan dan berkesinambungan.
Dalam konteks pembangunan lokal, diakomodasi dari ide Jim Ife, Ife menawarkan prinsip alternatif pengembangan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan masyarakat (power community) dari keluarga masyarakat yang kurang beruntung (disadvantaged), menjadi masyarakat beruntung dan kuat (Qomaruddin, 2017). Kami kutip dari tulisan Qomaruddin bahwa 22 prinsip dengan 33 indikator yang ditawarkan oleh Jim Ife hanya dikutip 6 prinsip, yakni:
Pertama, Integrated Development. Kegiatan pengembangan masyarakat harus merupakan sebuah pembangunan yang terintegrasi, yang dapat mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yaitu sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, dan spiritual. Dengan kata lain, ketika kegiatan pengembangan masyarakat difokuskan pada satu aspek, maka kegiatan tersebut harus memperhatikan dan memperhitungkan keterkaitan dengan aspek lainnya.
Kedua, Human Right. Kegiatan pengembangan harus dapat menjamin adanya pemenuhan hak bagi setiap manusia untuk hidup secara layak dan baik.
Ketiga, Sustainability. Kegiatan pengembangan masyarakat harus memperhatikan keberlangsungan lingkungan, sehingga penggunaan bahan-bahan yang non-renewable harus diminimalisasi. Hasil kegiatan pengembangan masyarakat pun tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan hidup manusia. Sustainability ini mengandung pengertian pula bahwa kegiatan pengembangan tidak hanya untuk kepentingan sesaat, namun harus memperhatikan sifat keberlanjutan dari kegiatan yang direncanakan.
Keempat, Empowerment. Pemberdayaan merupakan tujuan dari pengembangan masyarakat. Pemberdayaan mengandung arti menyediakan sumber-sumber, kesempatan, pengetahuan, dan keterampilan kepada warga masyarakat untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat menentukan masa depannya, dan dapat berpartisipasi dalam kehidpan masyarakat dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya menghilangkan berbagai hambatan yang akan menghalangi perkembangan masyarakat. Hal ini juga berarti bahwa pengembangan masyarakat menjadi proses belajar bagi masyarakat untuk meningkatkan dirinya, sehingga kegiatan pengembangan masyarakat dapat berkelanjutan.
Kelima, Self-Reliance. Kegiatan pengembangan masyarakat sedapat mungkin memanfaatkan berbagai sumber yang dimiliki oleh masyarakat daripada menggantungkan kepada dukungan dari luar. Adapun sumber yang berasal dari luar haruslah hanya sebagai pendukung saja.
Keenam, Participation. Pengembangan masyarakat sedapat mungkin memaksimalkan partisipasi masyarakat, dengan tujuan agar setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam aktivitas dan proses masyarakat. Partisipasi ini juga harus didasarkan kepada kesanggupan masing-masing. Artinya, setiap orang akan berpartisipasi dengan cara yang berbeda-beda. Dengan demikian, perlu diperhatikan adanya upaya-upaya yang dapat menjamin partisipasi dari berbagai kelompok masyarakat.
Prinsip-prinsip tersebut sebagai alternatif pengembangan masyarakat menuju pembangunan lokal yang berkemajuan dan berkelanjutan yang dimulai dengan konsep pembangunan masyarakat. Sebagai pemuda yang terus berperan aktif dalam pembangunan lokal bisa mengakomodasi prinsip-prinsip yang ditawarkan oleh Ife, akan tetapi secara teknis prinsip tersebut dijalankan sesuai realitas kondisi sosial.
Pemuda dan pemerintah diharapkan mampu bekerja intensif dan sinergis menuju bonus demografi agar upaya pembangunan lokal mampu terintegrasi dalam lingkup sosial, ekonomi, dan budaya dan terealisasi selanjutnya memanfaatkan bonus demografi sebagai tonggak kemajuan bangsa yang terwujud secara berkeadilan.
Alfian Hamdani, 15 Januari 2018
Islam dan Tantangan Budaya Globalisasi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan utamanya teknologi di bidang informasi telah menggiring umat manusia menjadi satu kesatuan—satu pemerintahan (one government), satu kewarganegaraan (the world citizen), satu mata uang (one currency), dan bisa jadi suatu saat tumbuh satu agama pula (one world religion). Mereka yang memiliki kekuatan dan menguasai “ilmu pengetahuan dan teknologi” akan segera menguasai kemah-kemah lain. Kekuatan melahirkan kekuasaan dan kekuasaan dapat memaksakan kehendak. Kekuasaan yang sangat besar, apalagi tanpa pengawasan dan kendali dapat membutatulikan hati nurani—apalagi dalam dunia politik yang tidak bermoral; ada kecenderungan kekuasaan dapat membeli hukum. Kekuasaan yang sangat besar mampu mendominasi siapa saja yang lemah. Ini sudah merupakan hukum alam. Siapa yang kuat, dia akan menguasai yang lemah. Kuncinya hanya terletak kepada “siapa yang mengendalikan kekuasaan tersebut”. Kekuasaan tanpa moral adalah tirani. Moral tanpa kekuasaan adalah banci. Kekuasaan akan menjadi surga bagi umat manusia bila berada di tangan orang yang bermoral. Sebaliknya, dia akan menjadi neraka bila dikendalikan oleh orang yang tidak memiliki moral. Seperti yang dijelaskan firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 80.
Artinya: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, dan limpahkanlah untukku dari sisi-Mu kekuatan yang akan menolong.” (Q.S al-Isra’: 80)
Dengan kekuatan kita mampu membedah dan memanfaatkan aset ilahiah, yaitu bumi dan langit yang dihamparkan untuk menguji siapakah di antara manusia yang paling baik amalnya.
Begitu juga dengan dominasi sebuah budaya. Budaya yang didukung oleh kekuatan dan kekuasaan akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap budaya lainnya. Begitu banyak budaya melemah dikarenakan dominasi budaya yang baru relatif lebih kuat. Dari waktu ke waktu, peradaban dan budaya manusia bagaikan mengikuti lingkaran hidup. Tumbuh, berkembang, kemudian hilang. Memang tidak ada budaya yang murni di muka bumi ini. Satu sama lain akan memberikan sumbangannya. Hidup atau peradaban manusia merupakan mata rantai dari masa lalu, sekarang, dan kemudian. Hakikat modern yang berarti—sesuatu yang baru terlahir karena yang lama. Dengan kata lain, sesuatu yang baru itu merupakan akumulasi dari penemuan, pengalaman, serta penghidupan yang sebelumnya. Perkataan “modern” mengisyaratkan suatu penilaian tertentu yang cenderung positif (“modern” berarti maju dan baik), padahal, dari sudut hakikatnya, zaman modern itu sesungguhnya bernilai netral saja.
Meskipun penyebutan zaman sekarang sebagai “Zaman Modern” sebagai konvensi (yang salah kaprah) harus diterima saja, namun, ditilik dari hakikat intinya, zaman sekarang akan lebih tepat jika disebut sebagai “Zaman Teknik” (Technical Age), “Karena pada munculnya zaman itu, adanya peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme itu.” Wujud keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini, yaitu Revolusi Industri (teknologis) di Inggris dan Revolusi Perancis (sosial-politik) di Perancis.
Dengan tibanya Zaman Teknik itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan pada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain, tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Penggunaan sepenuhnya teknologi di suatu bagian dunia (Barat) tidakmlagi dapat dibatasi pengaruhnya hanya kepada tempat itu sendiri saja, tetapi merambah ke seluruh muka bumi, meliputi seluruh budaya manusia tanpa dapat dihindari sama sekali. Namun, karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat itu, maka modernitas sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa-bangsa Barat), tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik nol. Jadi bangsa-bangsa bukan Barat dalam usaha modernisasi dirinya terpaksa pada permulaan prosesnya harus menerima paradigma modernitas Barat, atau berdasar paradigma yang ada itu membuat paradigma baru.
Kita mengenal ungkapan: “Al-Islam shaalih li kulli zamaan wal makaan; Islam itu sesuai dalam setiap zaman dan tempat.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam senantiasa membuka diri untuk menerima berbagai hal, pengalaman, ilmu, dan inovasi yang saleh (tidak bertentangan dengan misi Islam). Misi Islam yaitu memberikan “salam”, sehingga budaya Islam mempunyai karakteristik yang sangat khas, yaitu menggali seluruh potensi dunia, merangkai pengalaman masa lalu untuk melahirkan sebuah “karya budaya” yang memberikan nilai-nilai kesejahteraan, kedamaian bagi umat manusia dan alam. Itulah sebabnya, berulang kali kita sebutkan misi kita untuk menyebarkan rahmat dan menempatkan diri sebagai lampu yang berbinar.
Nilai-nilai, cara mempersepsi dan bertindak sebagai dasar sebuah budaya harus dimulai dari sifat terbuka (open minded). Sehingga setiap pribadi muslim memiliki wawasan yang bersifat mondial dan universal. Kita tidak perlu merasa gamang untuk memetik pencapaian yang diperoleh bangsa lain, bahkan agama lain. Karena tidak ada satu budaya yang bersifat monolitik eksklusif atau steril dari pengaruh budaya lainnya.
Kekuatan dan kekuasaan budaya Barat begitu hebatnya mencengkeram, seakan-akan kita tidak lagi mempunyai pilihan, kecuali harus memilih untuk menerimanya. Bila pada masa lalu masih memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Di era globalisasi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah, sehingga tidak ada lagi pertukaran nilai budaya melainkan “harus menerima” budaya yang kuat tersebut.
Perkiraan UNESCO telah menjadi kenyataan. Berapa banyak budaya telah berubah dan berapa banyak keputusan dibentuk dan diarahkan oleh negara-negara super power, utamanya Amerika. Mereka yang telah menguasai informasi dan memanfaatkan satelit, tentu saja adalah negara super power tersebut, sehingga mereka sudah berubah menjadi penguasa informasi dunia—atau mungkin tepat bisa saya sebut sebagai infokrasi. Sebuah bentuk penjajahan baru atau information imperialism yang akan memakan waktu cukup lama menghisap darah negara-negara yang lemah teknologinya. Opini dunia dengan mudah dapat dibentuk. Infokrasi saat ini menjadi tirani dan ideologi baru yang mengglobal.
Dalam cara berpikir, tantangan yang paling menggila, yaitu adanya para pemikir bebas nilai yang bersifat liberal dan memprivatisasikan agama sebagai salah satu bentuk pemikiran sekuler. Semua cerita masa kecil lindap dilahap kedigdayaan budaya yang lebih kuat. Bagi kita, tentu saja semua ini adalah sebuah tantangan. Tidak perlu menyikapinya dengan emosional, tetapi menjadi motivasi besar untuk bersaing, mengislamkan budaya, dan mengisinya dengan nilai-nilai moral dan disajikan secara popular serta memikat.
Globalisasi merupakan keharusan sejarah. Kita tidak bisa menghindarinya kecuali bagaimana mengendalikannya. Itu pun kalau kita memiliki keberanian. Padahal kita sangat paham bahwa untuk menjadi seorang pemberani, harus memiliki kekuatan dan kepercayaan diri. Bila tidak, kita hanya akan menjadi konsumen paling setia atau bahkan menjadi kuli-kuli bagi mereka yang memiliki kekuatan tersebut. Sadar atau tidak sadar, kekuatan dan pengaruh globalisasi telah merusak seluruh jiwa dan raga kita. Mulai cara berpakaian, cara makan, cara bergaul, dan bahkan mungkin saja sebentar lagi ada semacam privatisasi beragama dengan berlindung di balik kata demokrasi dan hak asasi manusia. Mungkin saja kata bid’ah akan diganti dengan istilah yang manis, yaitu kreativitas spiritual. Ukhuwah—apakah ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan utamanya basyariah—akan diganti dengan Islam liberal dan sebagainya.
Begitu dahsyatnya gelombang globalisasi, sehingga tidak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah, apalagi meratapi sambil mencibir nasib dengan kaa-kata yang menghibur tanpa makna. Bila kita tidak mengejar dan mampu mengarahkan arus globalisasi, bahkan buta dan tak mampu menangkap arah zaman, niscaya kita akan menjadi sasaran gombalisasi mereka yang menguasai teknologi. Bila buta ekonomi, niscaya mereka dengan mudah menggombal tentang pentingnya dana bantuan global yang bunganya akan mencekik. Bila kita tidak ingin diglobalisasi, kita harus mampu menerjemahkan ayat-ayat Qur’aniyah dan Kauniyah dalam bentuknya yang nyata. Bagaimana caranya agar kitab kuning yang selama ini menjadi kajian dan hafalan-hafalan verbal, seperti kata-kata mutiara Islam (mahfuzat) diterjemahkan dalam bentuk istilah pergaulan yang lebih nyata.


