TUMPAS CORONA BUTUH KEKUATAN BERSAMA

 TUMPAS CORONA BUTUH KEKUATAN BERSAMA

 


Wabah COVID-19 menjadi permasalahan global saat ini. WHO (World Health Organization) menetapkan bahwa Coronavirus Disease (COVID-19) sebagai pandemi yang menyerang manusia berskala global. Siapa yang menyangka makhluk sekecil virus corona mampu mengacaukan kondisi global saat ini sehingga berdampak pada krisis ekonomi, perubahan kondisi politik global dan nasional, hingga kasus kematian massal. Dari laporan WHO, ternyata virus tersebut mampu menyebar dengan cepat, penyebarannya pun dinilai dimulai dari kontak kecil, misalnya berjabat tangan. Data menunjukkan kasus terkonfirmasi mengalami tren peningkatan setiap bulannya. Tren peningkatan ini menunjukkan kasus penyebaran virus yang luar biasa cepat yang sudah memakan korban jutaan. Dari permasalahan tersebut, kita tidak bisa hanya melihat dari satu kacamata saja misalnya dari sisi medis, perlu juga dilihat dari berbagai sudut pandang.

Refleksi Bersama

Kasus pandemi ini tidak bisa dianggap remeh, terbukti dalam jangka waktu kurang lebih 5 bulan, kasus ini menunjukkan tren peningkatan kasus kematian yang serius. Berkaca dari negara Italia yang menganggap kasus ini sebagai permasalahan biasa, yang dengan ujung-ujungnya memakan korban yang luar biasa. Dari total kasus terkonfirmasi di Italia, ternyata memakan separuh dari populasi penduduk Italia. Kasus tersebut menunjukkan kelalaian pemerintah sekaligus masyarakat yang menganggap pandemi ini sebagai kasus yang enteng, bukan hanya kelalaian tetapi keterbukaan informasi dan pemberian edukasi juga menjadi faktor sentral dalam menekan kasus penyebaran virus corona.

Indonesia sendiri sudah mengkonfirmasi kasus virus corona sebanyak ribuan pasien. Dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan, jumlah kasus terkonfirmasi positif di Indonesia tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Dengan jumlah kematian yang tinggi pula, Indonesia dinilai lamban dalam menangani kasus ini. Sebelumnya WHO dan Uni Eropa pernah menuduh pemerintah Indonesia menutup-nutupi kasus pandemi ini, mereka juga mensinyalir pemerintah Indonesia belum siap dalam menangani kasus ini yang berimplikasi lamban dalam merespon pandemi global.

Pemerintah Indonesia akhir-akhir ini cenderung menggelontorkan anggaran belanja negara untuk pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, penanaman modal dan investasi asing. Mungkin itu hanya salah satu dari program prioritas pemerintah. Modal pembangunan manusia seperti kesehatan lebih menekankan pada mereduksi sistem dan tata kelola internal, bukan pelayanan optimal yang sifatnya sebagai investasi modal kehidupan masyarakat. Sebagai gantinya, fasilitasi kesehatan masyarakat cenderung abai karena ulah oknum-oknum yang memilih menguntungkan dirinya sendiri. Mahalnya biaya BPJS kesehatan dengan pelayanan yang kurang memuaskan dan perusahaan asuransi kesehatan yang problematis.

Hari ini kita bersama-sama merefkesikan diri sebagai sebuah bangsa yang besar. Di tengah pandemi global yang serius, masyarakat Indonesia khususnya negara Indonesia bersama-sama bercermin, langkah apa selanjutnya yang harus diambil oleh pemangku kebijakan sehingga dampak yang dihasilkan mampu mereduksi ketegangan-ketegangan yang tidak diduga dan lebih-lebih secara inklusif bersama-sama memberikan manfaat positif bagi pembangunan manusia yang lebih baik lagi.

Merangkai Jaring-jaring Sosial Menuju Integrasi Nasional

Di tengah pandemi global sekarang, bukan egosentrisme dan heroisme yang dipertontonkan. Fenomena saling kritik dan serang bukanlah solusi berkelanjutan, selain menimbulkan gap antar masyarakat, hal itu juga akan menimbulkan ketegangan dan sifat skeptis terhadap pemerintah. Bisa kita lihat bagaimana beberapa para pemangku kepentingan saling serang yang seolah menampakkan kapasitasnya dalam penanganan pandemi. Beberapa daerah juga misalnya, mengambil alternatif dengan melakukan lockdown. Ini yang kemudian, menjadikan persepsi bagi sebagian masyarakat bahwa keputusan yang diambil oleh pemerintah sifatnya bukan kolektif-integratif. Tidak dijalankan secara serentak dan diterapkan bersama. Apabila hal itu semakin mengkristal di benak masyarakat, justru akan menciptakan kegaduhan dan ketidakpatuhan masyarakat dalam penanganan pandemi ini secara bersama.

Di tengah kegaduhan dan kekhawatiran psikologis masyarakat saat ini, dibutuhkan suatu perekat yang mampu menyatukan gerakan bersama, bukan sifat egois dan herois yang cenderung saling klaim antar pihak atau golongan. Penanganan yang bersifat saling klaim dan cenderung politis akan menimbulkan kekacauan sosial, ibarat bom waktu yang malah akan menimbulkan puncak dari kekacauan bukan puncak dari penyelesaian.

Yang pertama kali penting untuk diketahui bersama adalah transparansi pemerintah terhadap keterbukaan informasi kasus penyebaran virus yang terjadi. Hal ini sangatlah penting mengingat informasi saat ini adalah sumber daya atau jalur pertama untuk membuka trust antara pemerintah dan masyarakat. Dengan mengakses informasi resmi dari pemerintah, masyarakat akan mengetahui bagaimana pemerintah akan mengatasi kasus ini, selain itu hal ini juga akan membangun kredibilitas antara pemerintah dan masyarakat sehingga informasi yang terdistribusi dengan akurat dan real time akan mudah diimplementasikan secara efektif dan bersama-sama. Bukan hanya itu, kecepatan dan konsistensi pemerintah dalam menyampaikan informasi juga tak kalah penting karena ketika muncul celah atau kekosongan pemerintah dalam menyampaikan informasi, maka celah itu akan diisi dengan hoaks yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Menengok ke negara Korea Selatan, otoritas kesehatannya sangat transparan memberikan data lengkap perkembangan. Korea Center for Disease Control (KCDC) memberikan informasi perkembangan terbaru kasus COVID-19 dua kali dalam sehari langsung ke telepon genggam masyarakat Korea Selatan. Otoritas kesehatan di tingkat bawah pun juga menjelaskan tempat mana saja yang pernah dikunjungi pasien COVID-19 tanpa mengungkap identitas mereka. Sementara di negara tetangga, Singapura, pemerintahnya dengan sangat baik mengelola informasi. Informasi yang diberikan otoritas Singapura memungkinkan masyarakatnya untuk mengetahui klaster wilayah yang berisiko tinggi hingga riwayat kontak penularan, namun dengan tetap menjaga identitas pasien. Di Indonesia sendiri, beberapa wilayah sudah mulai memberikan informasi pasien-pasien yang terjangkit positif corona. Melalui radar GPS, masyarakat bisa mengakses untuk mengetahui daerah mana yang rentan atau terdapat pasien positif corona. Itulah yang kemudian akan menjadi model yang bisa diterapkan secara serentak di seluruh Indonesia untuk mengurangi akses penyebaran virus melalui smartphone mereka dan memutus jalur penularan dengan tidak atau jarang mengunjungi daerah yang rentan penularan. Hal di atas bisa dijadikan sebagai akses masyarakat untuk menerima informasi otentik dari pemerintah karena di masa pandemi ini, informasi-informasi seputar wabah rentan akan penyebaran hoax, jadi dengan menerapkan one gate information, yakni membuka sumber informasi satu pintu sekaligus penyediaan data kasus yang terspesifikasi, maka penyebaran informasi akan menjadi lebih efektif untuk pencegahan penularan virus.

Yang kedua adalah tes kesehatan massal. Kita lihat di beberapa negara, dalam penanganan kasus penyebaran virus, mereka melakukan rapid test secara massal. Mungkin beberapa daerah atau kota sudah menerapkan hal itu, tapi melihat tingkat penyebaran virus corona yang semakin tinggi setidaknya tes kesehatan massal bisa diterapkan di seluruh tingkat daerah. Hal ini bertujuan untuk deteksi dini resiko penyebaran virus, di sisi lain, ketakutan masyarakat terhadap sentimen-sentimen gejala bisa teratasi. Bisa kita lihat bagaimana ketakutan masyarakat terhadap seseorang di sekelilingnya ketika batuk atau bersin. Inilah yang kemudian akan menimbulkan kekhawatiran karena mereka mungkin beberapa mempercayai bahwa orang yang batuk atau bersin terindikasi gejala corona. Dengan mengetahui gejala melalui serangkaian tes massal, penderita atau pasien bisa mengetahui dengan pasti kondisinya sehingga mereka tau apa yang harus dilakukan atas saran petugas kesehatan. Di sisi lain, hal itu juga untuk mengurangi tingkat penyebaran setiap orang yang terindikasi positif corona.

Yang terakhir adalah akses layanan masyarakat. Akses layanan masyarakat ini dimaksudkan sebagai wadah konsultasi dan edukasi. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif karena kekhawatiran akan resiko penyebaran virus, pemerintah daerah bersama masyarakat akan menjangkau daerah-daerah yang memang minim penyebaran informasi dan cenderung daerah yang abai terhadap penyebaran virus. Apalagi baru-baru ini, sebanyak 18.830 masyarakat turut berpartisipasi menjadi relawan penanganan COVID-19. Dengan mengerahkan tenaga kesehatan untuk langsung terjun ke daerah-daerah yang memang bermasalah, para relawan secara langsung bisa memberikan edukasi dan menerima layanan konsultasi. Tujuannya untuk menangkal kekhawatiran sekaligus mendeteksi dini resiko penyebaran virus. Maraknya desa atau daerah-daerah yang kurang simpatik dengan warganya yang terjangkit positif corona adalah salah satu dari kurangnya edukasi kepada masyarakat, bukan hanya itu, mereka bahkan menolak kepulangan salah satu warganya dari luar kota karena takut terjangkit virus, bahkan kurang simpatik dengan keluarga korban yang terjangkit virus. Jadi ini merupakan problem lain yang juga harus diperhatikan karena akan membangun gap antar masyarakat. Hal ini perlu dilakukan dengan serangkaian edukasi yang tujuannya untuk membangun persepsi masyarakat tentang pentingnya membangun ikatan sosial di tengah pandemi ini untuk memeranginya secara bersama.

Oleh karena itu kekuatan empati dan simpati masyarakat terhadap pandemi ini harus dikuatkan. Selain itu, peran pemerintah juga menjadi penting sebagai edukator dan fasilititator dalam menekan kasus penyebaran ini. Melalui instruksi yang diberikan oleh presiden, pemerintah provinsi dan daerah juga turut berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat hingga ke tingkat bawah, selain itu peran lembaga sosial dan para relawan sosial dalam mengedukasi dan memberikan bantuan sosial juga turut memberikan manfaat yang besar. Untuk menghimpun kekuatan bersama, masyarakat Indonesia membutuhkan instruksi dan arahan yang jelas dari pemimpin negara. Sehingga pemerintah bersama masyarakat menghimpun kekuatan untuk menekan resiko penyebaran virus dan menyelesaikan pandemi ini.


Referensi:

https://www.pinterpolitik.com/delusi-statistik-covid-19-indonesia/ diakses tanggal 7 April 2020.


Share:

No comments:

Post a Comment