Menuju Bonus Demografi

BONUS DEMOGRAFI: INTEGRASI PEMBANGUNAN LOKAL

Indonesia mulai menuju masa transisi, yakni dengan adanya bonus demografi. Puncak dari era bonus demografi ini akan dicapai ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada angka 70% dari jumlah penduduk total yang menurut proyeksi BPS dicapai antara rentang tahun 2025-2030. Dalam pengertiannya, bonus demografi merupakan masa di mana 70% penduduk telah mencapai usia produktif yakni 15 tahun dengan 30% nya berusia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun. Di mana pada usia produktif dikatakan akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi negara.
Pemuda sebagai tongkat estafet negara diharapkan mampu memberikan sumbangan penting bagi negara khususnya dimulai dalam konteks pembangunan lokal yang berkesinambungan. Bonus demografi mempunyai dampak signifikan terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan budaya apalagi pada abad ke 21 di mana teknologi dan informasi mempunyai perkembangan yang sangat pesat.
Pesatnya teknologi informasi memiliki dampak positif dan negatif salah satunya yakni adanya multikulturalisme. Multikulturalisme seperti yang diungkapkan oleh Prof. Azyumardi Azra, pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Perlunya juga difiltrasi agar pengetahuan yang masuk pun harus diambil sisi positifnya sebagai nilai tambah yang mampu menopang pembangunan lokal yang berkemajuan. Menilik kecenderungan perubahan sosial pada abad ke-21 seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ditandai dengan 6 kecenderungan yakni:


  1. Bertarungnya revolusi digital yang semakin luar biasa yang mengubah sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan termasuk pendidikan.
  2. Terjadinya integrasi belahan dunia yang semakin intensif akibat internasionalisasi, globalisasi dan hubungan-hubungan multikultural teknologi komunikasi dan teknologi transportasi.
  3. Berlangsungnya pendataran dunia sebagai akibat berbagai perubahan mendasar dimensi-dimensi kehidupan manusia terutama akibat mengglobalnya korporasi dan individu.
  4. Sangat cepatnya perubahan dunia yang mengakibatkan dunia tampak berlari tunggang langgang, ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas dan keusangan segala sesuatu cepat terjadi.
  5. Semakin tumbuhnya masyarakat padat pengetahuan, masyarakat informasi dan masyarakat jaringan yang membuat pengetahuan informasi dan jaringan menjadi modal sangat penting.
  6. Makin tegarnya fenomena abad kreatif beserta masyarakat kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai modal penting untuk individu, perusahaan, dan masyarakat.


Dalam kondisi sosial yang semakin berubah, pemuda diharapkan mampu berpartisipasi secara aktif, kritis dan responsif sehingga mampu memanfaatkan bonus demografi yang semakin dekat. Khususnya pemuda juga perlu menekankan pentingnya berwirausaha bagi masyarakat, apalagi pada abad ke-21 ini mulai menjamurnya bisnis start up, karena wirausaha mampu diakses oleh semua kalangan mulai dari yang berpendidikan rendah sampai tinggi. Hal ini juga tidak lepas dari pesatnya teknologi informasi yang mendukung berkembangnya wirausaha yang diakomodasi dari media sosial yang berbasis bisnis online. Dari data yang dirilis oleh eMarketer, hingga tahun 2018 penjualan eceran e-dagang global diperkirakan akan mencapai $2,5 triliun.
Semakin tingginya usia seseorang mencapai masa produktif memasuki lapangan pekerjaan apabila tidak dibarengi dengan tumbuhnya lapangan pekerjaan yang tersedia mengakibatkan timbulnya kesenjangan ekonomi. Karena itu kualitas manusianya juga perlu digali lagi dalam hal pontensi minat dan bakatnya. Hal itu memungkinkan individu untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan masyarakat. Aktualisasi minat dan bakatnya mampu mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang memungkinkan juga tumbuhnya wirausaha baru. Dimulai dari aspek pendidikan, yang merupakan hal yang sangat fundamental untuk membangun katakter siswanya karena itu dari pemerintah sendiri ada baiknya mulai memberikan tambahan mata pelajaran kewirausahaan yang dimulai dari sekolah dasar.
Selanjutnya, dalam orientasi pengembangan keahlian/keterampilan, pemerintah melalui Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan (Bappenas) mengoptimalkan peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan vokasi. Upaya tersebut ditekankan pada empat bidang garapan yang harus dilakukan.
Bidang garapan pertama adalah melindungi penduduk yang sudah bekerja dapat terus bekerja. Kedua, bagiamana membuka kesempatan kerja agar angkatan kerja baru memperoleh tempat untuk bekerja.  Ketiga, memfasilitasi penduduk yang bekerja terus bekerja dan memiliki produktifitas yang tinggi. Keempat, menyiapkan angkatan kerja baru agar memiliki kompetensi yang tinggi sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja.
Selanjutnya, Kemeterian Perindustrian sendiri pada tahun ini telah menyiapkan 4 tahap program pendidikan vokasi industri yang mencakup 4 wilayah yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan wilayah Sumatera Utara. Dari Jawa Timur sendiri di tempatkan pada 50 perusahaan dan 234 SMK.
Dalam konteks pendidikan, pemuda juga harus setidaknya mengenyam pendidikan dibangku sekolah, tujuannya agar tercipta karakter individu yang mampu memiliki wawasan, pengetahuan, dan moral yang tinggi. Pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Paulo Freire adalah instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu mewujudkan potensinya. Oleh karena itu, pendidikan memainkan peranan strategis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan berkualitas.
Dalam hal ini, untuk menuju bonus demografi pemerintah juga telah menyiapkan dana sebesar Rp 2 triliun melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk optimalisasi pemberian beasiswa pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah khususnya dari kalangan yang tidak mampu.
Menuju bonus demografi potensi pemuda dimanfaatkan seoptimal mungkin agar kesempatan tersebut mampu membawa perubahan bagi bangsa Indonesia sendiri khususnya dimulai dari pembangunan lokal. Pembangunan lokal juga mempunyai dampak signifikan terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Dengan ketiga aspek tersebut perlu diperhatikan arah geraknya dan penanganan intensif untuk memanfaatkan bonus demografi seoptimal mungkin. Karena bagaimanpun pembangunan lokal lah yang diidentifikasikan untuk mengukur sejauh mana kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu perlunya penanganan khusus untuk menopang pembangunan lokal yang berkemajuan dan berkesinambungan.
Dalam konteks pembangunan lokal, diakomodasi dari ide Jim Ife, Ife menawarkan prinsip alternatif pengembangan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan masyarakat (power community) dari keluarga masyarakat yang kurang beruntung (disadvantaged), menjadi masyarakat beruntung dan kuat (Qomaruddin, 2017). Kami kutip dari tulisan Qomaruddin bahwa 22 prinsip dengan 33 indikator yang ditawarkan oleh Jim Ife hanya dikutip 6 prinsip, yakni:
Pertama, Integrated Development. Kegiatan pengembangan masyarakat harus merupakan sebuah pembangunan yang terintegrasi, yang dapat mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yaitu sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, dan spiritual. Dengan kata lain, ketika kegiatan pengembangan masyarakat difokuskan pada satu aspek, maka kegiatan tersebut harus memperhatikan dan memperhitungkan keterkaitan dengan aspek lainnya.
Kedua, Human Right. Kegiatan pengembangan harus dapat menjamin adanya pemenuhan hak bagi setiap manusia untuk hidup secara layak dan baik.
Ketiga, Sustainability. Kegiatan pengembangan masyarakat harus memperhatikan keberlangsungan lingkungan, sehingga penggunaan bahan-bahan yang non-renewable harus diminimalisasi. Hasil kegiatan pengembangan masyarakat pun tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan hidup manusia. Sustainability ini mengandung pengertian pula bahwa kegiatan pengembangan tidak hanya untuk kepentingan sesaat, namun harus memperhatikan sifat keberlanjutan dari kegiatan yang direncanakan.
Keempat, Empowerment. Pemberdayaan merupakan tujuan dari pengembangan masyarakat. Pemberdayaan mengandung arti menyediakan sumber-sumber, kesempatan, pengetahuan, dan keterampilan kepada warga masyarakat untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat menentukan masa depannya, dan dapat berpartisipasi dalam kehidpan masyarakat dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya menghilangkan berbagai hambatan yang akan menghalangi perkembangan masyarakat. Hal ini juga berarti bahwa pengembangan masyarakat menjadi proses belajar bagi masyarakat untuk meningkatkan dirinya, sehingga kegiatan pengembangan masyarakat dapat berkelanjutan.
Kelima, Self-Reliance. Kegiatan pengembangan masyarakat sedapat mungkin memanfaatkan berbagai sumber yang dimiliki oleh masyarakat daripada menggantungkan kepada dukungan dari luar. Adapun sumber yang berasal dari luar haruslah hanya sebagai pendukung saja.
Keenam, Participation. Pengembangan masyarakat sedapat mungkin memaksimalkan partisipasi masyarakat, dengan tujuan agar setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam aktivitas dan proses masyarakat. Partisipasi ini juga harus didasarkan kepada kesanggupan masing-masing. Artinya, setiap orang akan berpartisipasi dengan cara yang berbeda-beda. Dengan demikian, perlu diperhatikan adanya upaya-upaya yang dapat menjamin partisipasi dari berbagai kelompok masyarakat.
Prinsip-prinsip tersebut sebagai alternatif pengembangan masyarakat menuju pembangunan lokal yang berkemajuan dan berkelanjutan yang dimulai dengan konsep pembangunan masyarakat. Sebagai pemuda yang terus berperan aktif dalam pembangunan lokal bisa mengakomodasi prinsip-prinsip yang ditawarkan oleh Ife, akan tetapi secara teknis prinsip tersebut dijalankan sesuai realitas kondisi sosial.
Pemuda dan pemerintah diharapkan mampu bekerja intensif dan sinergis menuju bonus demografi agar upaya pembangunan lokal mampu terintegrasi dalam lingkup sosial, ekonomi, dan budaya dan terealisasi selanjutnya memanfaatkan bonus demografi sebagai tonggak kemajuan bangsa yang terwujud secara berkeadilan.

Alfian Hamdani, 15 Januari 2018
Share:

Puisi Kehidupan

Refleksi Jiwa 
Sudah lama tak kusentuh sajadahku
Menempelkan bening jidatku di atasnya
Lusuh sajadahku, terlipat di atas tumpukan kardus yang usang
Berdebu dan bau tak kala dilentangkan di tanah yg kering kerontang
Berat langkahku menuju cucuran air wudlu
Dengan gemerciknya yang membasuh sebagian tubuhku
Suaranya hanya terdengar di masjid-masjid dan musholla
Yang angkuh memekik telinga para pendusta
Takkala takbir berkumandang dengan pengeras suara
Terdengar gemersak gesekan sandal menyentuh tanah
Seakan memanggil, memekakan telinga
Aku termangu di atas kasur empukku
Dengan Rahman Rahim-Mu Demi langit dan seisinya dan demi semua makhluknya yang Engkau kuasai
Inikah rasa cinta-Mu kepada makhluk-Mu?
Memberikan kabar gembira kepada hambamu
Yang telah lupa akan kebesaran-Mu?
Pantaskah aku masih bersujud kepada-Mu?
Yang telah lalai dan lalim kepada-Mu

Bunga Asmara

Di bawah kemilau sang surya
Lahirnya pesona jiwa yang dipetik dari dawai asmara
Dinyanyikan dengan getar nada-nada cinta
Bergelora menghantam desir prahara
Sekuntum bunga anggun merekah
Harum merambah di antara kemerlap cahaya nan merona
Engkaulah bait suci dalam syair sang sufi Bersua menjadi alunan melodi berapi-api
Memandangmu, bergolak dentumnya tiada henti
Mengalir dari darah hingga urat nadi
Kubisikkan getirnya pada angin yang syahdu tentang kata yang sempat bisu
Biarpun suaraku sumbang namun, Degup dadaku tak pernah bimbang Berpaling pun, guratan wajahmu takkan pernah hilang
Deru jiwaku terhempas oleh ombak samudera
Tenggelam dalam lautan asmara Karam diantara pesona dan cinta 

Ratapan Pertiwi

Sambil mengendus ilalang
Pijar-pijar rembulan memancar Kerlap-kemerlap bintang merona Terang benderang cakrawala Deru jiwa menggema dalam genggam angkasa
Mata berbinar dengan tarian rumput Membentang disepanjang persemaian bunga-bunga
Jejak langkah terkikis embun
Derap kaki melesat tinggi
Terbang dengan siulan bak seruni Kedua sayapnya masih dini menjelajah angkasa
Mudah terengah-engah dan terhempas di tengah prahara
Tangisan tanah meradang menyerang urat syaraf
Langit menjulang bumi hilang 

Sepenggal Sajak Untuk Adinda

Adinda Lewat tulisan ini, aku rapalkan bait-bait sajak sederhana
Yang lahir dari bawah langit berbintang dan temaram rembulan Bersama angin dan dedaunan terbang Telah ku hafal setiap kata yang terbesit dalam pikiran
Merangkainya menjadi satuan sajak yang utuh dalam selembar kertas
Tapi coba kau teliti kembali, sementara aku akan berbenah dan memperbaiki Kau tau kan, bahwa aku tak pandai berkata-berkata
Maaf jika itu merepotkanmu
Adinda
Aku tau bahwa tulisanku tidak akan merubah apapun
Kau sudah pandai dalam berkata-kata dan bersikap
Sudah banyak buku yang kau baca dan pahami
Sementara aku hanya pekerja buruh dan tak mampu membeli buku
Tapi aku hanya mencoba meluangkan waktuku untuk merenung dan menulis kisahku sendiri
Tentang percintaan, ya, percintaan yang sederhana, yang hanya dengan menulis sajak
Adinda
Selembar kertas ini hanya sekedar abstraksi kenyataan cintaku
Melalui sajak ini akan coba kugapai anganku untuk memahamimu Pikiranku meracau, membentuk delusi pertemuan denganmu
Bagaimana aku bisa menafikanmu sementara bayang wajah dan syahdu suaramu sudah tertanam dalam hatiku Deru napas ini tidak akan pernah berhenti selama harapan masih tetap subur dalam sanubari
Setiap kata yang terpatri sudah melebur dalam pikiran yang dihidupkan dengan kerendahan hati Seumpama biji bunga yang disemai, tak hentinya aku merawatnya hingga kelopaknya anggun merekah
Ihwal mencintai, setiap insan merefleksikan diri dalam siklus kehidupan yang dinamis dan harmonis Jika masih ada luka dan rasa sakit, manusia hanya bisa mengharap pada setiap untaian doa dan usaha diri yang dihidupkan kembali dengan kelapangan hati menuju Ilahi
Apabila engkau masih tertatih dalam setiap langkahmu, didera kepedihan yang meratapmu, dan meski pedang menancap dibalik sayapmu, meski panah menembus jantungmu. Peluklah lara dengan dekap kasihmu Aku magis dalam dirimu

Aku Dinamit

Gemuruh suara terpendam Melacurkan diri dalam angan-angan panjang
Goyah, ditekan batin ketakutan
Dilema oleh keputusasaan
Ruang-ruang kebebasan, dikekang oleh tuntutan tak terasionalkan, tanpa kompromi mengenai kedaulatan Mengurai kebijakan dituduh berlaku frontal
Mengkritisi pernyataan dicap bertindak kejahatan
Bicara keadilan seakan dimunafikkan Berdemonstrasi, disangka bertindak anarki
Memberi solusi, malah dimaki-maki
Lidah yang anyir kini tak mampu meludah di muka tuan
Terpaksa ditelan sambil bergumam
Suara-suara yang dulunya lantang dinyanyikan, kini hanya berupa bisikan
Tapi ingatlah...
Sesungguhnya suara tidak akan pernah binasa
Rangkaian kata-kata akan terus tercipta
Bersama dengan resah dan rintih rakyat jelata
Mereka akan terus lahir di tengah-tengah penindasan dan kegelisahan
Siapa berani mengusik kebimbangan ketika ungkapan tak mampu diredam
Siapa berani menghentikan jeritan kata yang kian membara
Karena sesungguhnya suara adalah dinamit
Meledak menghantam bangunan-bangunan megah
Membuyarkan barisan serdadu nan gagah perkasa
Mengusik tidur panjang yang sedang terjaga
Suara yang bungkam kini berkumandang lantang
Membentur kursi dan meja kekuasaan
Mari...
Bersatulah kawan
Kita adalah angkatan yang ditempa oleh kemapanan
Terbina dalam dunia yang datar dan instan
Biarpun dihujam selongsong senapan
Dihantam oleh kerasnya godam
Mari rapatkan barisan, hentakkan derap kakimu kawan
Kepalkan tanganmu dan lawan

Alfian Hamdani

www.puisikehidupan.com
Share:

Perindustrian Dalam Islam

Mukaddimah
Industri adalah salah satu manifestasi dari kerja keras. Dan industri adalah  cabang ekonomi yang tingkat perkembangan produktivitasnya lebih cepat dari perkembangan tingkat produktivitas keseluruhan perekonomian. Maka  industri menjadi asas ekonomi yang paling penting. Pada masa lalu industri hanya terbatas pada industri tradisional. Namun ketika manusia  mendapatkan cara menggunakan uap dalam menjalankan mesin, maka mulailah industri mekanis menggantikan industri manual. Dan ketika datang  era penemuan-penemuan modern dalam bidang teknologi, maka terjadilah  revolusi yang penting dalam industri. Produk meningkat pesat yang  sebelumnya belum pernah terlintas dalam pikiran. Penelitian membuktikan  bahwa semakin  besar jumlah penduduk, makin besar peranan industri dalam perekonomiannya. Maka, industri sangat penting bagi bangsa  Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar. Karena tingkat pendapatan dan jumlah penduduk merupakan dua faktor penting yang menentukan luas pasar suatu negara. Di negara-negara yang tingkat  pendapatan perkapitanya sama, peranan berbagai industri dalam perekonomian akan berbeda apabila jumlah penduduknya sangat berbeda.
Di samping peran industri yang sangat strategis dalam sebuah Negara, di  sana ada dampak yang sangat serius yang mesti diantisipasi. Terutama dampaknya terhadap semangat nasionalisme negara tersebut. Perkembangan industri yang dibarengi dengan perkembangan ekonomi secara umum, mengharuskan sebuah negara membuka diri terhadap semua negara dalam bidang ekonomi, bahkan hampir dalam semua bidang. Hukum  ekonomi modern yang memuja kebebasan pasar mengharuskan itu terjadi. Disamping itu, perkembangan industri juga mengakibatkan semakin sempitnya lahan-lahan pertanian.
Perindustrian Di Masa Lalu
Pada zaman Mamluk, industri sudah mendapatkan perhatian yang besar.  Mesir mengembangkan berbagai jenis industri untuk meningkatkan  ekonominya. Pada masa itu, Mesir sangat terkenal dengan produk-produk industri tekstilnya. Industri logam juga sangat berkembang di Mesir. Peralatan-peralatan rumah tangga dari logam berkembang seperti perkembangan ornamen-ornamen perhiasan dari emas dan perak. Peninggalan-peninggalan kerangka rumah dari besi dan baja dari Zaman Mamluk sampai sekarang masih tersimpan baik di Arabian Archeological Museum of Cairo. Pada tahun 1870-an, Mesir juga sudah mengembangkan industri kimia, makanan, kulit, perkayuan, batu dan keramik, kaca, dan industri seni grafis dan desain. Pusat industri Mesir pada saat itu adalah Cairo dan Alexandria.
Sultan Muhammad Ali dari Kesultanan Turki Usmani juga memandang industri sebagai bagian ekonomi yang sangat penting untuk kesejahteraan rakyat dan kesultanannya. Ia menandatangani kerjasama bidang ekonomi dan industri dengan Kerajaan Inggris (The Anglo-Ottoman Trade Convention)  pada tahun 1838, yang diantara isinya adalah peningkatan kerjasama ekspor  dan impor antara dua negara dan aturan proteksi terhadap usaha-usaha industri di Kesultanan Turki Usmani. Hal itulah yang mendasari perkembangan industri modern di Turki. Hanya Istanbul dan Izmir yang semula menjadi pusat industri di Turki, tapi kemudian berkembang hampir ke seluruh wilayah Anatolia, termasuk Ankara dan Adana.
Pada tahun 1951, Inggris mengadakan pameran industri internasional yang dikenal dengan “Great Exhibition” di London’s Hyde Park. Perhelatan pameran di pusatkan di gedung raksasa yang terbuat dari kaca dan baja yang  diberi nama Crystal Palace. Pameran ini diikuti oleh lebih dari 14.000 perusahaan industri dari seluruh dunia. Bahkan panitia penyelenggara mengklaim bahwa produk industri apapun yang bisa dibuat manusia ada dalam pameran ini. Saat itu, industri dianggap seperti “supernatural hand” dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Kemampuan Inggris untuk berubah menjadi negara industri kemudian diikuti oleh Jerman, Jepang  dan Amerika Serikat. Negara-negara Asia Selatan, Timur dan Tenggara juga tidak ketinggalan. Perkembangan industri yang cepat di negara-negara tersebut menjadikan mereka sebagai kekuatan-kekuatan baru di dunia ekonomi. Bahkan, perkembangan ekonomi mereka sekarang lebih cepat daripada negara-negara industri maju pada umumnya.
Peranan Kemajuan Teknologi terhadap Kemajuan Industri
Teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan industri dan ekonomi secara umum. Semua teori tentang perkembangan ekonomi, pasti memasukkan teknologi sebagai salah satu faktor penting pertumbuhan. Teknologi mempunyai hubungan dengan inovasi yaitu penemuan baru yang telah diterapkan dalam proses produksi, seperti menemukan komoditi baru, menemukan cara produksi baru, dan lain-lain. Teori Arthur Lewis, misalnya, memberikan penekanan kepada peranan kemajuan teknologi hanya secara implisit dan memusatkan perhatian pada aspek lain, yaitu peranan akumulasi kapital di sektor modern. Sebaliknya, teori Schummpeter memberikan posisi sentral kepada kemajuan teknologi dalam proses perkembangn industri dan ekonomi secara umum.
Kemajuan teknologi merupakan sumber pertumbuhan output yang sangat penting, bahkan mungkin yang terpenting diantara faktor-faktor pertumbuhan lainnya. Pada tahun 1780-an, industri logam di Inggris mengalami perkembangan yang sangat pesat setelah ditemukannya metode pembakaran menggunakan batubara sebagai ganti dari arang. Sejak saat itu, Inggris tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan logam dalam negerinya tapi juga sudah mulai menjadi negara pengekspor logam di Eropa.
Ada tiga macam kemajuan teknologi yang sifatnya sederhana: Pertama, kemajuan teknologi yang khusus meningkatkan efisiensi setiap unit tenaga kerja. Dengan kemajuan teknologi ini, seorang pekerja, dengan mesin atau alat yang sama, bisa meningkatkan outputnya. Perbaikan kesehatan dan ketrampilan termasuk ke dalam kategori ini. Tenaga kerja yang bisa ditingkatkan produktifitasnya dengan kemajuan teknologi ini disebut tenaga kerja efektif. Kedua, kemajuan teknologi yang meningkatknya produktifitas kapital (mesin) tapi tidak mempengaruhi tenaga kerja. Dalam hal ini, setiap mesin dengan pekerja yang sama menghasilkan output yang lebih banyak atau lebih berkualitas. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien adalah contoh dari kemajuan teknologi macam ini. Ketiga, kemajuan teknologi yang meningkatkan produktifitas mesin dan tenaga kerja secara seimbang. Kemajuan teknologi ini menggeser ke atas seluruh fungsi produksi. Contoh dari kemajuan teknologi ini adalah perbaikan manajemen produksi yang meningkatkan produktifitas mesin maupun tenaga kerja secara menyeluruh.
Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris, setiap perusahaan pasti memiliki laboratorium R & D (Research & Development) yang canggih. Dana besar mereka alokasikan untuk pusat-pusat penelitian ini, karena dari sinilah perkembangan industri mereka digantungkan. Namun kemajuan teknologi saja ternyata tidak bisa dijadikan jaminan kemajuan industri suatu masyarakat. Yang harus dibangun terlebih dahulu dan lebih utama adalah mentalitas masyarakat dan etos kerjanya. Bahwasannya kemajuan teknologi sebagai basis kemajuan industri harus dibarengi dengan kemajuan mental manusia yang akan mengoperasikan teknologi tersebut.
Perindustrian Dalam Perseperktif Islam
Islam, menurut para ulama, menawarkan sebuah semangat dan sikap mental agar setiap Muslim selalu berpandangan bahwa kehidupan hari esok harus lebih baik daripada hari ini dengan melalui aktivitas berkarya. Sebagaimana  firman Allah dalam At-Taubah [9]: 105:
(Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan), dan bahkan mendorong umat Islam untuk menjadi ‘Subjek Perubahan’. Kesadaran untuk berkarya harus berlandaskan semangat Tauhid. Sehingga semua aktivitas keseharian setiap Muslim harus diniatkan dan diorientasikan sebagai ibadah kepada Allah SWT (dalam rangka mencari keridlaan Allah SWT). Sebaliknya, setiap upaya ibadah kepada Allah harus direalisasikan dalam bentuk ‘karya  nyata’ yang bernilai positif (amal shalih). Karya, bagi setiap Muslim adalah ibadah dan ibadah merupakan implementasi dari sikap Tauhid.
Berkarya bagi setiap Muslim merupakan manifestasi keimanan, yang berkaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu beribadah dalam rangka memperoleh ’ridla Allah’. Berkarya bukan sekadar bertujuan memuliakan dirinya, tetapi juga sebagai manifestasi amal shalih (karya produktif). Karenanya memiliki nilai ibadah yang sangat luhur. Penghargaaan hasil karya dalam lslam kurang lebih setara dengan ’iman’ yang tumbuh di dalam hati, bahkan berkarya dapat menjadi jaminan atas ampunan dosa, bila diniatkan dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya.
Usaha industri adalah salah satu bentuk pekerjaan yang sangat dihormati dalam Islam. Namun dalam berindustri, seorang muslim harus menepati aturan-aturan Islam, agar tidak menyimpang dari tujuan Islam. Lima prinsip seorang Muslim dalam aktifitas ekonominya, yaitu: Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyah, Istikhlaf, Tazkiyatu an-Nafs dan al-Falah.
Maka aspek utama motivasi berindustri dalam Islam adalah:
Berdasarkan ide keadilan Islam sepenuhnya. Seorang pengusaha Islam tidak diizinkan untuk senantiasa mengejar keuntungan semata-mata dengan alasan bahwa ia memiliki kemampuan untuk menegakkan keadilan dan kebajikan yang diingini oleh agama Islam. Permasalahan yang dihadapi pengusaha sehubungan dengan rasionalitas ekonomi dan kehendak Islam adalah bahwa ia diharapkan akan bertindak untuk mendukung dan menguntungkan para konsumen disamping keuntungannya sendiri.
Berusaha membantu masyarakat dengan cara mempertimbangkan kemaslahatan orang lain pada saat seorang pengusaha membuat keputusan yang berkaitan dengan kebijaksanaan perusahaan.
Membatasi pemaksimuman keuntungan sesuai dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh prinsip di atas.
Tentang industri yang menyangkut kepentingan dan hajat masyarakat umum, Islam mengatur bahwa industri itu harus menjadi milik umum, tidak dikuasai pribadi. Seperti penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Abyadh bin Hamal:
Bahwa dia meminta kepada Rasulullah untuk diberi hak mengelola tambang garam yang terdapat di daerah Ma’rab. Setelah dia pergi, Aqra’ bin Habis al-Tamimi bertanya: “Wahai Rasulullah, pada zaman Jahiliyah saya mengambil garam dari mana saja, Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (menyangkut kebutuhan hidup orang banyak)”. Maka Rasulullah kemudian mengambil kembali pemberian hak pengelolaan garam dari Abyadh bin Hamal. Abyadh berkata: “Saya berikan kembali tambang garam ini sebagai shadaqah dariku”. “Ya, tambang garam ini shadaqah darimu, saya ambil kembali karena tambang ini seperti air mengalir yang boleh diambil oleh siapa saja”.
Hadis di atas menerangkan bahwa iqtha’ (hak pemberian negara) kepada swasta untuk bidang-bidang yang meliputi hajat hidup orang banyak dapat ditarik kembali dan dikuasai sepenuhnya oleh negara untuk kemaslahatan seluruh warga negara. Usaha-usaha selain yang menyangkut hajat hidup orang banyak dapat dimilki oleh pribadi.
Dengan demikian, dalam Islam, membangun semangat nasionalisme dapat  berjalan bersama dengan pembangunan industri. Karena Islam menjamin industri yang melayani hajat hidup orang banyak akan dikuasai negara atau diberikan haknya kepada swasta yang diyakini tidak akan merugikan rakyat. Begitu juga bidang pertanian yang melayanai hajat hidup orang banyak dalam bidang pangan. Negara wajib menjamin keberlangsungan dan keberhasilan bidang pertanian. Sehingga perindustrian terus maju, semantara bidang-bidang lain, termasuk pertanian, tidak dirugikan bahkan bisa berjalan bersama-sama dan saling mendukung.
Kesimpulan
Dalam Islam, etika dan moral berperan sangat sentral. Dalam segala aspek ekonomi pun Islam mengatur bahwa etika dan moral harus bisa memerankan perannya dengan baik. Segala jenis aktivitas ekonomi yang bertentangan dengan nilai-nilai etika Islam diharamkan.
Dalam bidang industri begitu juga. Bukan hanya keuntungan materi yang dikejar. Dan tanggungjawab moralnya pun bukan hanya kepada manusia, tetapi yang lebih berat adalah tanggungjawab kepada Allah SWT. Keuntungannya pun bukan hanya keuntungan duniawi yang dikejar, tetapi keuntungan duniawi dan ukhrawi. Dalam Islam, industri harus maju dan didukung penuh oleh negara karena fungsinya yang sangat penting, tapi meskipun demikian tidak boleh ada bidang-bidang lain yang dirugikan, seperti  nasionalisme dan pertanian. Semua harus berjalan dan saling mendukung.
Referensi: Kamaluddin, Imam. 2013. Perindustrian Dalam Islam. Jurnal, Volume 7 Nomor 2.
Share:

Islam dan Tantangan Budaya Globalisasi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan utamanya teknologi di bidang informasi telah menggiring umat manusia menjadi satu kesatuan—satu pemerintahan (one government), satu kewarganegaraan (the world citizen), satu mata uang (one currency), dan bisa jadi suatu saat tumbuh satu agama pula (one world religion). Mereka yang memiliki kekuatan dan menguasai “ilmu pengetahuan dan teknologi” akan segera menguasai kemah-kemah lain. Kekuatan melahirkan kekuasaan dan kekuasaan dapat memaksakan kehendak. Kekuasaan yang sangat besar, apalagi tanpa pengawasan dan kendali dapat membutatulikan hati nurani—apalagi dalam dunia politik yang tidak bermoral; ada kecenderungan kekuasaan dapat membeli hukum. Kekuasaan yang sangat besar mampu mendominasi siapa saja yang lemah. Ini sudah merupakan hukum alam. Siapa yang kuat, dia akan menguasai yang lemah. Kuncinya hanya terletak kepada “siapa yang mengendalikan kekuasaan tersebut”. Kekuasaan tanpa moral adalah tirani. Moral tanpa kekuasaan adalah banci. Kekuasaan akan menjadi surga bagi umat manusia bila berada di tangan orang yang bermoral. Sebaliknya, dia akan menjadi neraka bila dikendalikan oleh orang yang tidak memiliki moral. Seperti yang dijelaskan firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 80.
Artinya: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, dan limpahkanlah untukku dari sisi-Mu kekuatan yang akan menolong.” (Q.S al-Isra’: 80)
Dengan kekuatan kita mampu membedah dan memanfaatkan aset ilahiah, yaitu bumi dan langit yang dihamparkan untuk menguji siapakah di antara manusia yang paling baik amalnya.
Begitu juga dengan dominasi sebuah budaya. Budaya yang didukung oleh kekuatan dan kekuasaan akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap budaya lainnya. Begitu banyak budaya melemah dikarenakan dominasi budaya yang baru relatif lebih kuat. Dari waktu ke waktu, peradaban dan budaya manusia bagaikan mengikuti lingkaran hidup. Tumbuh, berkembang, kemudian hilang. Memang tidak ada budaya yang murni di muka bumi ini. Satu sama lain akan memberikan sumbangannya. Hidup atau peradaban manusia merupakan mata rantai dari masa lalu, sekarang, dan kemudian. Hakikat modern yang berarti—sesuatu yang baru terlahir karena yang lama. Dengan kata lain, sesuatu yang baru itu merupakan akumulasi dari penemuan, pengalaman, serta penghidupan yang sebelumnya. Perkataan “modern” mengisyaratkan suatu penilaian tertentu yang cenderung positif (“modern” berarti maju dan baik), padahal, dari sudut hakikatnya, zaman modern itu sesungguhnya bernilai netral saja.
Meskipun penyebutan zaman sekarang sebagai “Zaman Modern” sebagai konvensi (yang salah kaprah) harus diterima saja, namun, ditilik dari hakikat intinya, zaman sekarang akan lebih tepat jika disebut sebagai “Zaman Teknik” (Technical Age), “Karena pada munculnya zaman itu, adanya peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme itu.” Wujud keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini, yaitu Revolusi Industri (teknologis) di Inggris dan Revolusi Perancis (sosial-politik) di Perancis.
Dengan tibanya Zaman Teknik itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan pada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain, tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Penggunaan sepenuhnya teknologi di suatu bagian dunia (Barat) tidakmlagi dapat dibatasi pengaruhnya hanya kepada tempat itu sendiri saja, tetapi merambah ke seluruh muka bumi, meliputi seluruh budaya manusia tanpa dapat dihindari sama sekali. Namun, karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat itu, maka modernitas sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa-bangsa Barat), tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik nol. Jadi bangsa-bangsa bukan Barat dalam usaha modernisasi dirinya terpaksa pada permulaan prosesnya harus menerima paradigma modernitas Barat, atau berdasar paradigma yang ada itu membuat paradigma baru.
Kita mengenal ungkapan: “Al-Islam shaalih li kulli zamaan wal makaan; Islam itu sesuai dalam setiap zaman dan tempat.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam senantiasa membuka diri untuk menerima berbagai hal, pengalaman, ilmu, dan inovasi yang saleh (tidak bertentangan dengan misi Islam). Misi Islam yaitu memberikan “salam”, sehingga budaya Islam mempunyai karakteristik yang sangat khas, yaitu menggali seluruh potensi dunia, merangkai pengalaman masa lalu untuk melahirkan sebuah “karya budaya” yang memberikan nilai-nilai kesejahteraan, kedamaian bagi umat manusia dan alam. Itulah sebabnya, berulang kali kita sebutkan misi kita untuk menyebarkan rahmat dan menempatkan diri sebagai lampu yang berbinar.
Nilai-nilai, cara mempersepsi dan bertindak sebagai dasar sebuah budaya harus dimulai dari sifat terbuka (open minded). Sehingga setiap pribadi muslim memiliki wawasan yang bersifat mondial dan universal. Kita tidak perlu merasa gamang untuk memetik pencapaian yang diperoleh bangsa lain, bahkan agama lain. Karena tidak ada satu budaya yang bersifat monolitik eksklusif atau steril dari pengaruh budaya lainnya.
Kekuatan dan kekuasaan budaya Barat begitu hebatnya mencengkeram, seakan-akan kita tidak lagi mempunyai pilihan, kecuali harus memilih untuk menerimanya. Bila pada masa lalu masih memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Di era globalisasi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah, sehingga tidak ada lagi pertukaran nilai budaya melainkan “harus menerima” budaya yang kuat tersebut.
Perkiraan UNESCO telah menjadi kenyataan. Berapa banyak budaya telah berubah dan berapa banyak keputusan dibentuk dan diarahkan oleh negara-negara super power, utamanya Amerika. Mereka yang telah menguasai informasi dan memanfaatkan satelit, tentu saja adalah negara super power tersebut, sehingga mereka sudah berubah menjadi penguasa informasi dunia—atau mungkin tepat bisa saya sebut sebagai infokrasi. Sebuah bentuk penjajahan baru atau information imperialism yang akan memakan waktu cukup lama menghisap darah negara-negara yang lemah teknologinya. Opini dunia dengan mudah dapat dibentuk. Infokrasi saat ini menjadi tirani dan ideologi baru yang mengglobal.
Dalam cara berpikir, tantangan yang paling menggila, yaitu adanya para pemikir bebas nilai yang bersifat liberal dan memprivatisasikan agama sebagai salah satu bentuk pemikiran sekuler. Semua cerita masa kecil lindap dilahap kedigdayaan budaya yang lebih kuat. Bagi kita, tentu saja semua ini adalah sebuah tantangan. Tidak perlu menyikapinya dengan emosional, tetapi menjadi motivasi besar untuk bersaing, mengislamkan budaya, dan mengisinya dengan nilai-nilai moral dan disajikan secara popular serta memikat.
Globalisasi merupakan keharusan sejarah. Kita tidak bisa menghindarinya kecuali bagaimana mengendalikannya. Itu pun kalau kita memiliki keberanian. Padahal kita sangat paham bahwa untuk menjadi seorang pemberani, harus memiliki kekuatan dan kepercayaan diri. Bila tidak, kita hanya akan menjadi konsumen paling setia atau bahkan menjadi kuli-kuli bagi mereka yang memiliki kekuatan tersebut. Sadar atau tidak sadar, kekuatan dan pengaruh globalisasi telah merusak seluruh jiwa dan raga kita. Mulai cara berpakaian, cara makan, cara bergaul, dan bahkan mungkin saja sebentar lagi ada semacam privatisasi beragama dengan berlindung di balik kata demokrasi dan hak asasi manusia. Mungkin saja kata bid’ah akan diganti dengan istilah yang manis, yaitu kreativitas spiritual. Ukhuwah—apakah ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan utamanya basyariah—akan diganti dengan Islam liberal dan sebagainya.
Begitu dahsyatnya gelombang globalisasi, sehingga tidak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah, apalagi meratapi sambil mencibir nasib dengan kaa-kata yang menghibur tanpa makna. Bila kita tidak mengejar dan mampu mengarahkan arus globalisasi, bahkan buta dan tak mampu menangkap arah zaman, niscaya kita akan menjadi sasaran gombalisasi mereka yang menguasai teknologi. Bila buta ekonomi, niscaya mereka dengan mudah menggombal tentang pentingnya dana bantuan global yang bunganya akan mencekik. Bila kita tidak ingin diglobalisasi, kita harus mampu menerjemahkan ayat-ayat Qur’aniyah dan Kauniyah dalam bentuknya yang nyata. Bagaimana caranya agar kitab kuning yang selama ini menjadi kajian dan hafalan-hafalan verbal, seperti kata-kata mutiara Islam (mahfuzat) diterjemahkan dalam bentuk istilah pergaulan yang lebih nyata.

Share: