Refleksi Jiwa
Sudah lama tak kusentuh sajadahku
Menempelkan bening jidatku di atasnya
Lusuh sajadahku, terlipat di atas tumpukan kardus yang usang
Berdebu dan bau tak kala dilentangkan di tanah yg kering kerontang
Berat langkahku menuju cucuran air wudlu
Dengan gemerciknya yang membasuh sebagian tubuhku
Suaranya hanya terdengar di masjid-masjid dan musholla
Yang angkuh memekik telinga para pendusta
Takkala takbir berkumandang dengan pengeras suara
Terdengar gemersak gesekan sandal menyentuh tanah
Seakan memanggil, memekakan telinga
Aku termangu di atas kasur empukku
Dengan Rahman Rahim-Mu Demi langit dan seisinya dan demi semua makhluknya yang Engkau kuasai
Inikah rasa cinta-Mu kepada makhluk-Mu?
Memberikan kabar gembira kepada hambamu
Yang telah lupa akan kebesaran-Mu?
Pantaskah aku masih bersujud kepada-Mu?
Yang telah lalai dan lalim kepada-Mu
Bunga Asmara
Di bawah kemilau sang surya
Lahirnya pesona jiwa yang dipetik dari dawai asmara
Dinyanyikan dengan getar nada-nada cinta
Bergelora menghantam desir prahara
Sekuntum bunga anggun merekah
Harum merambah di antara kemerlap cahaya nan merona
Engkaulah bait suci dalam syair sang sufi Bersua menjadi alunan melodi berapi-api
Memandangmu, bergolak dentumnya tiada henti
Mengalir dari darah hingga urat nadi
Kubisikkan getirnya pada angin yang syahdu tentang kata yang sempat bisu
Biarpun suaraku sumbang namun, Degup dadaku tak pernah bimbang Berpaling pun, guratan wajahmu takkan pernah hilang
Deru jiwaku terhempas oleh ombak samudera
Tenggelam dalam lautan asmara Karam diantara pesona dan cinta
Ratapan Pertiwi
Sambil mengendus ilalang
Pijar-pijar rembulan memancar Kerlap-kemerlap bintang merona Terang benderang cakrawala Deru jiwa menggema dalam genggam angkasa
Mata berbinar dengan tarian rumput Membentang disepanjang persemaian bunga-bunga
Jejak langkah terkikis embun
Derap kaki melesat tinggi
Terbang dengan siulan bak seruni Kedua sayapnya masih dini menjelajah angkasa
Mudah terengah-engah dan terhempas di tengah prahara
Tangisan tanah meradang menyerang urat syaraf
Langit menjulang bumi hilang
Sepenggal Sajak Untuk Adinda
Adinda Lewat tulisan ini, aku rapalkan bait-bait sajak sederhana
Yang lahir dari bawah langit berbintang dan temaram rembulan Bersama angin dan dedaunan terbang Telah ku hafal setiap kata yang terbesit dalam pikiran
Merangkainya menjadi satuan sajak yang utuh dalam selembar kertas
Tapi coba kau teliti kembali, sementara aku akan berbenah dan memperbaiki Kau tau kan, bahwa aku tak pandai berkata-berkata
Maaf jika itu merepotkanmu
Adinda
Aku tau bahwa tulisanku tidak akan merubah apapun
Kau sudah pandai dalam berkata-kata dan bersikap
Sudah banyak buku yang kau baca dan pahami
Sementara aku hanya pekerja buruh dan tak mampu membeli buku
Tapi aku hanya mencoba meluangkan waktuku untuk merenung dan menulis kisahku sendiri
Tentang percintaan, ya, percintaan yang sederhana, yang hanya dengan menulis sajak
Adinda
Selembar kertas ini hanya sekedar abstraksi kenyataan cintaku
Melalui sajak ini akan coba kugapai anganku untuk memahamimu Pikiranku meracau, membentuk delusi pertemuan denganmu
Bagaimana aku bisa menafikanmu sementara bayang wajah dan syahdu suaramu sudah tertanam dalam hatiku Deru napas ini tidak akan pernah berhenti selama harapan masih tetap subur dalam sanubari
Setiap kata yang terpatri sudah melebur dalam pikiran yang dihidupkan dengan kerendahan hati Seumpama biji bunga yang disemai, tak hentinya aku merawatnya hingga kelopaknya anggun merekah
Ihwal mencintai, setiap insan merefleksikan diri dalam siklus kehidupan yang dinamis dan harmonis Jika masih ada luka dan rasa sakit, manusia hanya bisa mengharap pada setiap untaian doa dan usaha diri yang dihidupkan kembali dengan kelapangan hati menuju Ilahi
Apabila engkau masih tertatih dalam setiap langkahmu, didera kepedihan yang meratapmu, dan meski pedang menancap dibalik sayapmu, meski panah menembus jantungmu. Peluklah lara dengan dekap kasihmu Aku magis dalam dirimu
Aku Dinamit
Gemuruh suara terpendam Melacurkan diri dalam angan-angan panjang
Goyah, ditekan batin ketakutan
Dilema oleh keputusasaan
Ruang-ruang kebebasan, dikekang oleh tuntutan tak terasionalkan, tanpa kompromi mengenai kedaulatan Mengurai kebijakan dituduh berlaku frontal
Mengkritisi pernyataan dicap bertindak kejahatan
Bicara keadilan seakan dimunafikkan Berdemonstrasi, disangka bertindak anarki
Memberi solusi, malah dimaki-maki
Lidah yang anyir kini tak mampu meludah di muka tuan
Terpaksa ditelan sambil bergumam
Suara-suara yang dulunya lantang dinyanyikan, kini hanya berupa bisikan
Tapi ingatlah...
Sesungguhnya suara tidak akan pernah binasa
Rangkaian kata-kata akan terus tercipta
Bersama dengan resah dan rintih rakyat jelata
Mereka akan terus lahir di tengah-tengah penindasan dan kegelisahan
Siapa berani mengusik kebimbangan ketika ungkapan tak mampu diredam
Siapa berani menghentikan jeritan kata yang kian membara
Karena sesungguhnya suara adalah dinamit
Meledak menghantam bangunan-bangunan megah
Membuyarkan barisan serdadu nan gagah perkasa
Mengusik tidur panjang yang sedang terjaga
Suara yang bungkam kini berkumandang lantang
Membentur kursi dan meja kekuasaan
Mari...
Bersatulah kawan
Kita adalah angkatan yang ditempa oleh kemapanan
Terbina dalam dunia yang datar dan instan
Biarpun dihujam selongsong senapan
Dihantam oleh kerasnya godam
Mari rapatkan barisan, hentakkan derap kakimu kawan
Kepalkan tanganmu dan lawan
Alfian Hamdani
www.puisikehidupan.com
Sudah lama tak kusentuh sajadahku
Menempelkan bening jidatku di atasnya
Lusuh sajadahku, terlipat di atas tumpukan kardus yang usang
Berdebu dan bau tak kala dilentangkan di tanah yg kering kerontang
Berat langkahku menuju cucuran air wudlu
Dengan gemerciknya yang membasuh sebagian tubuhku
Suaranya hanya terdengar di masjid-masjid dan musholla
Yang angkuh memekik telinga para pendusta
Takkala takbir berkumandang dengan pengeras suara
Terdengar gemersak gesekan sandal menyentuh tanah
Seakan memanggil, memekakan telinga
Aku termangu di atas kasur empukku
Dengan Rahman Rahim-Mu Demi langit dan seisinya dan demi semua makhluknya yang Engkau kuasai
Inikah rasa cinta-Mu kepada makhluk-Mu?
Memberikan kabar gembira kepada hambamu
Yang telah lupa akan kebesaran-Mu?
Pantaskah aku masih bersujud kepada-Mu?
Yang telah lalai dan lalim kepada-Mu
Bunga Asmara
Di bawah kemilau sang surya
Lahirnya pesona jiwa yang dipetik dari dawai asmara
Dinyanyikan dengan getar nada-nada cinta
Bergelora menghantam desir prahara
Sekuntum bunga anggun merekah
Harum merambah di antara kemerlap cahaya nan merona
Engkaulah bait suci dalam syair sang sufi Bersua menjadi alunan melodi berapi-api
Memandangmu, bergolak dentumnya tiada henti
Mengalir dari darah hingga urat nadi
Kubisikkan getirnya pada angin yang syahdu tentang kata yang sempat bisu
Biarpun suaraku sumbang namun, Degup dadaku tak pernah bimbang Berpaling pun, guratan wajahmu takkan pernah hilang
Deru jiwaku terhempas oleh ombak samudera
Tenggelam dalam lautan asmara Karam diantara pesona dan cinta
Ratapan Pertiwi
Sambil mengendus ilalang
Pijar-pijar rembulan memancar Kerlap-kemerlap bintang merona Terang benderang cakrawala Deru jiwa menggema dalam genggam angkasa
Mata berbinar dengan tarian rumput Membentang disepanjang persemaian bunga-bunga
Jejak langkah terkikis embun
Derap kaki melesat tinggi
Terbang dengan siulan bak seruni Kedua sayapnya masih dini menjelajah angkasa
Mudah terengah-engah dan terhempas di tengah prahara
Tangisan tanah meradang menyerang urat syaraf
Langit menjulang bumi hilang
Sepenggal Sajak Untuk Adinda
Adinda Lewat tulisan ini, aku rapalkan bait-bait sajak sederhana
Yang lahir dari bawah langit berbintang dan temaram rembulan Bersama angin dan dedaunan terbang Telah ku hafal setiap kata yang terbesit dalam pikiran
Merangkainya menjadi satuan sajak yang utuh dalam selembar kertas
Tapi coba kau teliti kembali, sementara aku akan berbenah dan memperbaiki Kau tau kan, bahwa aku tak pandai berkata-berkata
Maaf jika itu merepotkanmu
Adinda
Aku tau bahwa tulisanku tidak akan merubah apapun
Kau sudah pandai dalam berkata-kata dan bersikap
Sudah banyak buku yang kau baca dan pahami
Sementara aku hanya pekerja buruh dan tak mampu membeli buku
Tapi aku hanya mencoba meluangkan waktuku untuk merenung dan menulis kisahku sendiri
Tentang percintaan, ya, percintaan yang sederhana, yang hanya dengan menulis sajak
Adinda
Selembar kertas ini hanya sekedar abstraksi kenyataan cintaku
Melalui sajak ini akan coba kugapai anganku untuk memahamimu Pikiranku meracau, membentuk delusi pertemuan denganmu
Bagaimana aku bisa menafikanmu sementara bayang wajah dan syahdu suaramu sudah tertanam dalam hatiku Deru napas ini tidak akan pernah berhenti selama harapan masih tetap subur dalam sanubari
Setiap kata yang terpatri sudah melebur dalam pikiran yang dihidupkan dengan kerendahan hati Seumpama biji bunga yang disemai, tak hentinya aku merawatnya hingga kelopaknya anggun merekah
Ihwal mencintai, setiap insan merefleksikan diri dalam siklus kehidupan yang dinamis dan harmonis Jika masih ada luka dan rasa sakit, manusia hanya bisa mengharap pada setiap untaian doa dan usaha diri yang dihidupkan kembali dengan kelapangan hati menuju Ilahi
Apabila engkau masih tertatih dalam setiap langkahmu, didera kepedihan yang meratapmu, dan meski pedang menancap dibalik sayapmu, meski panah menembus jantungmu. Peluklah lara dengan dekap kasihmu Aku magis dalam dirimu
Aku Dinamit
Gemuruh suara terpendam Melacurkan diri dalam angan-angan panjang
Goyah, ditekan batin ketakutan
Dilema oleh keputusasaan
Ruang-ruang kebebasan, dikekang oleh tuntutan tak terasionalkan, tanpa kompromi mengenai kedaulatan Mengurai kebijakan dituduh berlaku frontal
Mengkritisi pernyataan dicap bertindak kejahatan
Bicara keadilan seakan dimunafikkan Berdemonstrasi, disangka bertindak anarki
Memberi solusi, malah dimaki-maki
Lidah yang anyir kini tak mampu meludah di muka tuan
Terpaksa ditelan sambil bergumam
Suara-suara yang dulunya lantang dinyanyikan, kini hanya berupa bisikan
Tapi ingatlah...
Sesungguhnya suara tidak akan pernah binasa
Rangkaian kata-kata akan terus tercipta
Bersama dengan resah dan rintih rakyat jelata
Mereka akan terus lahir di tengah-tengah penindasan dan kegelisahan
Siapa berani mengusik kebimbangan ketika ungkapan tak mampu diredam
Siapa berani menghentikan jeritan kata yang kian membara
Karena sesungguhnya suara adalah dinamit
Meledak menghantam bangunan-bangunan megah
Membuyarkan barisan serdadu nan gagah perkasa
Mengusik tidur panjang yang sedang terjaga
Suara yang bungkam kini berkumandang lantang
Membentur kursi dan meja kekuasaan
Mari...
Bersatulah kawan
Kita adalah angkatan yang ditempa oleh kemapanan
Terbina dalam dunia yang datar dan instan
Biarpun dihujam selongsong senapan
Dihantam oleh kerasnya godam
Mari rapatkan barisan, hentakkan derap kakimu kawan
Kepalkan tanganmu dan lawan
Alfian Hamdani
www.puisikehidupan.com

