Showing posts with label Hoax. Show all posts
Showing posts with label Hoax. Show all posts

PENGUATAN LITERASI DIGITAL DI ERA DISRUPSI MEDIA INFORMASI



Perkembangan teknologi informasi merupakan keniscayaan yang harus diterima saat ini. Disrupsi teknologi informasi menjadikan arus pertukaran dan penyebaran informasi bersifat real-time, karena kekuatan informasi terletak pada kapan informasi itu disampaikan dan diterima oleh masyarakat dan apabila informasi itu tidak segera disampaikan maka informasi tersebut akan tenggelam ditumpukan-tumpukan informasi lain. Mengingat bahwa panggung media hari ini bukan hanya milik lembaga media ataupun instansi pemerintah, akan tetapi sudah milik masyarakat luas karena mencuatnya eksistensi media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp, dll. Jadi dalam menilai autentitas informasi, masyarakat dihadapkan dengan berbagai informasi yang serupa dengan sumber yang hampir sama. Oleh karena itu, dalam membedakan mana informasi yang benar dan yang salah, masyarakat harus jeli dalam melihat dari berbagai sumber dan sudut pandang.
Melihat fenomena era informasi saat ini, Reed (2014) menyatakan dampak dari penggunaan teknologi digital dan internet ialah bahwa, teknologi digital saat ini memasukkan lebih banyak informasi pada jari pengguna internet daripada yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Reed mengibaratkan bahwa semua perpustakaan kuno Alexandria yang hilang secara tragis yang memuat semua sumber pengetahuan pada masanya sekarang dapat dikandung microchip seukuran ujung jari telunjuk. Dengan tegas, pada era saat ini Sahrul Mauludi (2018) menjelaskan perbedaan antara media lama dan media baru adalah bahwa media baru bercirikan digitality, interactivity, hypertextuality, dipersal, dan virtuality. Hal itu semua merupakan dampak dari penggunaan teknologi digital dan internet. Media sosial adalah salah satu produk era informasi yang awalnya sebagai forum komunikasi di dunia maya dan saling berkirim pesan, akan tetapi hari ini menjadi bersifat multifungsi, yakni berperan sebagai panggung berekspresi dan berkirim informasi.
Media sosial sebagai panggung berekspresi, media bertukar informasi, dan berkomunikasi telah melibatkan hampir seluruh masyarakat dunia, dalam media ini kita tidak dibatasi oleh letak geografis maupun tingkat demografi. Hal ini mengaburkan batasan-batasan yang memisahkan karena semua itu sudah konvergen dalam panggung media sosial. Media sosial sebagai pusat komunikasi dan berbagi informasi di dunia digital menjadi semacam jalur distribusi dan gudang penyimpanan informasi. Informasi-informasi yang melintas ataupun tersimpan merupakan harta bagi setiap orang yang membutuhkan. Kita hanya tinggal mencari di kolom pencarian maka, abrakadabra, informasi yang kita butuhkan akan segera muncul. Inilah zaman instan, apapun yang kita inginkan akan segera keluar tanpa harus mencari susah payah keliling kota atau keluar dari rumah.

Menuju Literasi Digital
Era digital merupakan fenomena yang tidak ada henti-hentinya dibahas. Karena era digital seakan menandakan kemajuan peradaban yang awalnya ditandai dengan masyarakat primitif, agraris, industrialis, dan kemudian sekarang, fase digital. Era digital meniscayakan cara kerja dan cara hidup baru manusia. Semua hal yang bersifat konvensional seperti pencarian informasi maupun berita melalui media cetak koran, buku, televisi, dan radio sudah kurang diminati oleh masyarakat khususnya kalangan remaja atau milenial. Internet dianggap sudah menjadi pusat pengetahuan dan informasi. Kita bisa mengambil contoh, ketika mahasiswa diberikan tugas membuat makalah oleh dosen, yang mereka lakukan bukan mencari di buku ataupun koran, mereka lebih mementingkan cara mudah dan efisien yaitu mencari di internet. Mungkin tidak semua mahasiswa seperti itu, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa mungkin beberapa tahun lagi, media cetak seperti koran, majalah atau buku sudah kurang diminati oleh masyarakat.


Internet membuat manusia hidaup dengan mudah, semua hal sudah berada disitu semua seakan merupakan dunia kedua bagi seseorang untuk berkomunikasi dan berekspresi. Internet menjadi pusat informasi, semua informasi dihimpun dalam sebuah data yang besar atau lebih eksisnya sekarang adalah big data. Big data menghimpun data pribadi dan informasi yang diunggah oleh seseorang untuk dipublikasikan maupun disimpan. Lalu bagaimana apabila informasi yang disimpan atau dipublikasikan terlalu banyak sehingga menyebabkan information overload? Hal itu bisa jadi hal postitf apabila informasi tersebut bermanfaat, mampu meningkatkan kualitas hidup. Akan tetapi, bagaimana apabila akibat terlalu banyaknya informasi, sehingga kita sebagai pengguna teknologi tidak bisa membedakan mana informasi yang salah dan yang benar. Paul Virilio, seorang filsuf Prancis menyebutkan kelebihan informasi sebagai “bom informasi” yang akan berdampak pada dehumanisasi.
Dilansir oleh APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2018, bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 171 juta jiwa dari total populasi penduduk 264 jiwa. Penggunanya lebih banyak didominasi oleh remaja dengan rentang usia 15 – 19 tahun. Pada usia tersebut mereka lebih cenderung menggunakan internet hanya sebagai ajang bermain game dan bermedia sosial. Sementara generasi dengan rentang usia tersebut merupakan generasi yang diharapkan oleh bangsa Indonesia mendatang yakni menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Karena di era mendatang masyarakat akan dihadapkan dengan teknologi komunikasi dan informasi yang kompleks dan canggih. Melihat fenomena yang eksis belakangan ini seperti pencemaran nama baik, penyebaran informasi hoaks, provokasi, penghinaan, hingga chat berbau porno berbasis media sosial merupakan masalah yang belum bisa terselesaikan, hal ini dikhawatirkan ketika terlalu lama belum diselesaikan bisa jadi ini merupakan hal yang biasa terjadi di media sosial dan dianggap sebagai hiburan belaka. Bisa jadi ini merupakan dampak dari kemajuan teknologi yang dibarengi dengan kurangnya edukasi tentang literasi digital.
Literasi digital merupakan hal yang sangat penting dan perlu diterapkan mengingat besarnya pengguna internet saat ini. Di Indonesia sendiri budaya literasi masih terbilang rendah, sebuah survey dari “Central Connecticut State University” yang dilakukan pada tahun 2016 menunjukkan  bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca (Mauludi, 96:2018). Lemahnya budaya literasi di Indonesia diperparah dengan meningkatnya pengguna internet dan smartphone di Indonesia tanpa dibarengi dengan literasi digital. Literasi digital sebagaimana pengertiannya merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui peranti komputer (Paul Gilster, 1997). Di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi, kemampuan literasi perlu ditingkatkan guna menunjang daya pikir masyarakat untuk bersifat kritis, analitis, dan kreatif dalam menyikapi setiap konten atau informasi yang beredar di internet maupun media sosial. Untuk itu, literasi digital perlu didorong sebagai mekanisme pembelajaran yang terstruktur dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem belajar-mengajar (Chabibie, 2017). Di sisi lain, kampanye literasi digital juga perlu disebarluaskan untuk menjangkau masyarakat yang belum faham mengenai pentingnya literasi digital.
Kampanye literasi digital secara masif dengan meningkatkan kemampuan analitis di tengah progresifnya teknologi digital dan menumbuhkan kecerdasan bermedia sosial akan mengarahkan lintas generasi bangsa ini pada kemanfaatan teknologi, bukan sampah media sosial beserta energi kebencian yang menyertainya (Chabibie, 2017). Kampanye literasi digital bisa dilakukan secara sederhana, melalui penyebaran konten positif dan edukatif di media sosial atau ajakan untuk membaca di tingkatan keluarga, komunitas, teman, atau lingkungan sekitar. Pada lingkungan pendidikan formal seperti sekolah dan universitas, kampanye literasi digital akan berjalan apabila kurikulum pendidikan memasukkan literasi pendidikan sebagai bahan ajar. Hal ini untuk menunjang kemampuan peserta didik dalam mengelola informasi yang bertebaran di media. Selain itu, melalui kurikulum tentang literasi digital, peserta didik mampu memfiltrasi, mengkritisi, dan menganalisis konten-konten yang negatif yang tidak pantas dipublikasikan di masyarakat. Di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, literasi digital diharapkan mampu menjembatani kemampuan generasi hari ini menuju Indonesia Emas.

Referensi: Mauludi, Sahrul. 2018. "Socrates Cafe". Jakarta: Elex Media Computindo.
                   Jurnal, dan media elektronik


Dibuat sebagai persyaratan mengikuti Pelatihan Jurnalistik
Share: